KISAH GARA-GARA SALAH KIRIM 2
“Apa-apaan ini, Din?” “Ibu?” Dengan menggunakan kursi roda, ibu menuju ke arah kami.
“Ibu, lihat ini, Mbak Dinda memarahiku sampai membuang semua makanan di meja. Padahal aku kan sudah meminta maaf.”
Seketika Dania berakting di hadapan ibu. Apa anak tidak tahu diri ini sengaja? Aku rasa telinganya tidak tuli, pasti tadi dia sudah mendengar sangat jelas dengan yang kuucapkan tentang siapa sebenarnya dirinya. Tapi kenapa dia tidak memprotes pada Ibu?
“Jangan keterlaluan seperti itu, Din. Bagaimana bisa adikmu menghormatimu jika sikapmu seperti ini?” Lanjut ibu.
Anak tidak tahu diri itu tersenyum penuh kemenangan ke arahku. Sedangkan lelaki bereng*ek yang ada di hadapanku menatapku seolah meledek. Pasti mereka tahu apa yang sedang kupikirkan saat ini. Mana mungkin aku bercerita yang sebenarnya pada ibu. Apa ibu akan percaya denganku? Di mata ibu, Nia gadis baik-baik yang selalu patuh kepadanya.
Nanti aku akan berbicara pada ibu tentang yang sebenarnya, sebaiknya aku segera berangkat ke rumah sakit.
“Dinda pamit, Bu.” Ucapku mengakhiri perdebatan.
Aku berlalu setelah mencium punggung tangan ibu.
“Kenapa tidak bareng sama Han saja?” Ucap ibu.
“Aku sudah terlambat, Bu.” Jawabku tak menghentikan langkah.
Tentu saja ibu memprotesku, selama ini aku memang selalu berangkat bersama dengan Mas Handoko dan Nia. Sebenarnya aku memiliki mobil pribadi, tapi karena rumah sakit tempaku bekerja satu arah dengan kantor peninggalan Ayah. Aku lebih memutuskan untuk berangkat bersama Mas Handoko. Begitu juga dengan Nia. Kampus Nia juga berada di sekitar rumah sakit tempatku bekerja.
Tapi mulai saat ini itu tidak akan terjadi lagi, aku akan memperjelas semua ucapanku pada Handoko melalui pesan Wahtsapp.
Lalu di mana benda itu?
Aku sempat mengurungkan niat untuk masuk ke dalam mobil saat menyadari bahwa ponselku telah tertinggal.
Apa aku meninggalkannya di kamar? Hah, terpaksa harus kembali untuk mengambilnya. Padahal ini sudah sangat siang.
Aku berjalan menuju kamar, saat melewati meja makan, ternyata ibu dan dua bede*ah itu sudah tidak ada lagi di tempat itu. Aku hany melihat Mbak Jum yang tampak sibuk dengan makanan yang berserakan karena ulahku tadi.
“Mbak Dinda kembali?” Mbak Jum terlihat sangat cemas saat menyadari bahwa aku kembali masuk ke dalam rumah.
“Aku hanya akan mencari ponselku di kamar, Mbak. Oh ya, ibu di mana?” Tanyaku sambil terus berjalan menuju kamar.
“Itu, Mbak. Anu. Ehhm, Mbak Dinda di panggil ibu di kamarnya.” Ucapan Mbak Jum berhasil membuatku menghentikan langkah.
“Memangnya ibu kenapa? Aku sudah kesiangan, Mbak.” Ucapku yang kini menjadi berbalik arah menuju kamar ibu.
“Sebaiknya Mbak Dinda ke kamar ibu saja, aku akan mencarikan ponsel Mbak Dinda ke kamar.” Ucapnya samar karena aku sudah hampir sampai ke kamar ibu yang terletak di samping tangga.
Tapi saat aku sampai di kamar ibu, ternyata ibu sedang tertidur pulas. Pasti ibu baru meminum obatnya. Ah, sukarlah tidak terjadi apa pun pada ibu. Setidaknya aku bisa berangkat ke rumah sakit dengan tenang.
Saat menatap arloji di pergelangan tangan, ternyata aku hampir terlambat. Gegas aku meninggalkan kamar ibu dan menghampiri Mbak Jum ke tempat tadi. Pasti Mbak Jum sudah membawa ponselku.
Tapi ternyata Mbak Jum tidak ada di ruangan tadi. Ah, ini sudah semakin siang. Pasti Mbak Jum tidak menemukan ponselku, sepertinya aku harus mencarinya sendiri ke kamar.
Aku sempat terkejut saat melihat Mbak Jum yang terlihat gelisah mondar mandir di depan kamarku.
“Apa ponselnya tidak ketemu, Mbak?”
Pertanyaanku membuat Mbak Jum sangat terkejut. Wanita di hadapanku ini terperanjat.
“Anu, Mbak. Ehhm,” Mbak Jum tergagap.
“Aduh Mbak, aku sudah kesiangan, biar aku cari sendiri.” Ucapku.
“Jangan, Mbak.” Ucapnya sangat lirih. Mbak Jum juga meraih tanganku.
Ada apa dengannya? Kenapa sejak tadi Mbak Jum terlihat sangat panik, bahkan sampai berkeringat seperti orang yang baru saja melakukan kesalahan.
“Di dalam situ ada Pak Han dan juga Mbak Nia,” Ia berbicara lirih sambil tergagap.
Kurang aja*, karena kesiangan, aku sampai melupakan dua bede*ah itu.
“Apa pintunya terkunci?” Bisikku tak kalah pelan dengan Mbak Jum.
Wanita itu menggelengkan kepalnya.
Benar-benar terkutuk! Ternyata seperti ini kelakuan mereka dibelakang-Ku. Lihat saja, aku tidak akan membiarkan kalian bernafas lagi.
Aku berusaha membuka pintu perlahan, keadaan kamarku sangat gelap diiringi suara musik klasik yang sengaja mereka hidupkan.
Meskipun gelap, tapi aku bisa meraih benda yang kucari. Sebuah remot ac.
Sengaja aku mematikan Ac dalam kamar, dan mengunci dari luar. Lihat saja, berapa lama kalian akan bertahan di dalam kamar yang tidak terdapat jendela bahkan ventilasi udara.
“Mbak Dinda mengunci mereka?” Tanya Mbak Jum.
“Biarkan mereka mati di dalam situ!” Jawabku sambil berlalu.
~
.jpg)