KELUARGA RAMADHAN
Bukan cerita perselingk*han.
Ini cerita keluarga, yang bisa dibaca berbagai usia.
KELUARGA RAMADHAN
Cantika mengayuh sepedanya santai saja. Arka mengayuh sepeda di belakang Cantika. Ia tidak pernah mau bersepeda di depan Kakaknya, takut tak melihat kalau sesuatu terjadi pada kakak kesayangannya.
Meski orang tua mereka, tidak pernah meminta Arka untuk menjaga Cantika. Arka berusaha menjaga kakaknya itu. Ia tahu, meski bisa bela diri seperti dirinya juga, namun tubuh kakaknya tak sekuat tubuhnya.
Cantika, seringkali demam dengan tiba-tiba. Cantika tidak bisa banyak minum es, karena batuk, dan pilek, bisa spontan menyerangnya. Cantika tidak bisa kedinginan, apa lagi kena hujan, dia akan kena diare, persis abba mereka.
Karena itu, Arka berusaha selalu menjaga kakaknya. Kata amma mereka, kakaknya itu lahir prematur. Amma mereka mengalami kecelakaan saat hamil Cantika. Itu yang membuat amma mereka melahirkan Cantika lebih cepat. Saat itu, di rumah sakit tidak ada darah yang sesuai dengan darah amma mereka. Untungnya, abba mereka bertemu dengan orang yang dulu pernah ditolong. Orang itu mendonorkan darahnya untuk amma mereka. Kata abba mereka. Perbuatan baik, ataupun jahat, pasti akan ada balasannya kelak. Karena itu, harus selalu berbuat baik.
Arka mengikuti Cantika memarkir sepeda di tempat parkir di depan pasar.
"Cantika cantik, tumben ke pasar berdua Arka. Mau beli apa?" sapa tukang parkir.
"Mau beli cumi-cumi, Paman," sahut Arka.
"Oh, selamat berbelanja."
"Terima kasih, Paman. Kami ke pasar dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Arka memegang lengan kakaknya, saat menyeberang jalan, untuk ke pasar yang ada di seberang parkiran. Kakaknya sedikit ceroboh, jadi ia takut Cantika menyeberang jalan tanpa melihat kiri, dan kanan dulu.
Setelah tiba di seberang, Arka melepaskan pegangan tangannya di lengan Cantika. Orang yang melihat, pasti berpikir, kalau Arka takut menyeberang, sehingga harus memegang lengan Cantika.
"Beli apa dulu, Kak?"
"Cumi-cumi dulu. Mau yang kecil, sedang, atau besar?"
"Yang sedang saja, Kak. Kalau kecil, nanti susah membersihkannya, kalau terlalu besar, kurang enak rasanya."
"Segitu sedang tidak?" Cantika menunjuk cumi-cumi yang ada di kotak penjual ikan.
"Ya, segitu saja, Kak."
Mereka berjongkok di depan penjual cumi-cumi. Ada seorang ibu juga berjongkok di dekat mereka.
"Berapa sekilo, Paman?"
Si penjual menyebutkan harganya.
"Sekilo, Paman. Pilihkan yang bagus ya."
"Tidak ditawar, Cantika?" tanya Si Ibu yang ternyata mengenal Cantika.
"Tidak, Acil. Kata Abba, kalau beli ikan, sayur, atau makanan jangan ditawar," jawab Cantika.
"Kenapa?"
"Takutnya, yang jual tidak ikhlas kasih kurang harganya. Itukan makanan, kalau masuk perut kita, yang jualan tidak ikhlas nanti tidak baik bagi kita."
"Ya enak, Abbamu kaya."
"Kata Abba juga, penjual kecil seperti Paman ini, jualan untuk bertahan hidup, tidak untuk hidup bermewah-mewah. Jadi sebaiknya jangan ditawar. Ditawar juga, turun seribu, dua ribu, paling banyak lima ribu. Tidak akan bikin kita miskin, Acil, dan tidak akan bikin Paman ini kaya." Arka ikut bicara, karena ia tidak suka mendengar nada sinis dari Si Ibu.
"Ini cuminya." Tukang ikan memberikan cumi pada Arka. Cantika menyerahkan uang ditangannya. Setelah menerima kembalian.
"Tukar (beli) ya, Paman. Kami duluan ya, Acil. Assalamualaikum."
Cantika berpamitan pada Si Ibu.
"Waalaikum salam. Jual, terima kasih," sahut Si Tukang ikan.
"Waalaikum salam. Enak bicara begitu, uang orang tuanya tidak berseri," gerutu Si Ibu.
"Kaya sekali ya, Bu?"
"Bukan lagi, usaha orang tuanya dimana-mana. Tapi ya begitu. Orang tuanya pelit. Pakaian anaknya saja murahan begitu. Belanja di pasar, seperti orang miskin." Ibu itu masih saja menggerutu.
Tukang ikan hanya geleng-geleng kepala. Ia justru kagum pada orang tua Cantika, setelah mendengar penjelasan Si Ibu, dan tadi mendengar ucapan Cantika, dan Arka. Ia yakin, orang tua kedua anak itu bukan karena pelit, jika kaya, tapi pakaian anaknya sederhana saja, tapi memang karena gaya hidup mereka yang sederhana.
Cantika, dan Arka berjalan berdua. Cantika di depan, Arka di belakang sambil menenteng plastik berisi cumi-cumi. Mereka tidak bisa berjalan bersisian, karena pengunjung pasar cukup banyak.
"Beli jagung yuk."
Cantika menunjuk jagung berwana orange, yang dihampar di satu karung.
"Buat apa?" tanya Arka.
Cantika menunjuk penjual yang sangat tua. Tangan Si Kakek terlihat kisut, dan sedikit gemetar.
"Oh ...."
Tidak perlu dijelaskan, Arka paham maksud kakaknya. Kata Abba mereka, membeli sesuatu itu, tidak harus karena kita butuh, tapi bisa karena Si Penjual yang butuh kita untuk membeli dagangannya.
Cantika berjongkok diikuti Arka.
"Jagungnya berapa, Kek?" Cantika memegang satu jagung yang sudah tidak ada kulitnya.
"Dua ribu sebiji."
"Ini ada berapa biji!?"
Si Kakek menghitung jagung dibantu Arka.
"Sisa dua puluh biji."
"Dua puluh biji, berarti empat puluh ribu ya, Kek?"
"Uangnya cukup, Kak? Kembalian tadi berapa?"
"Cukup, cumi tadi empat puluh lima ribu, masih ada lima puluh lima ribu."
"Oh ... bungkus semua ya, Kek."
Si Kakek membungkus jagung dengan dua kantong plastik besar yang sudah bekas. Cantika memberikan uang selembar lima puluh ribu pada Si Kakek.
"Enggak usah kembali, Kek."
Arka menggoyangkan telapak tangannya, saat Si Kakek ingin mengambil kembalian, di tas Selempangnya yang lusuh.
Si Kakek tertegun, tak percaya dengan pendengarannya.
"Beli ya, Kek."
Si Kakek masih diam.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." Si Kakek menjawab dengan gumaman, seakan jawaban itu tanpa ia sadari keluar dari sela bibirnya.
Cantika membawa bungkusan cumi-cumi, sedang Arka membawa dua kantong plastik jagung, di kiri, dan kanan tangannya.
"Beli apa lagi, Kak?"
"Pulang, duitnya tinggal lima ribu, buat bayar parkir."
"Jagungnya kita jual lagi saja, Kak. Jadi kita bisa jajan."
"Jual ke mana?"
"Jual kemana ya?"
Mereka tiba di parkiran.
"Arka, bawa jagung buat apa?" Seorang ibu menyapa mereka.
"Mau beli, Bu? Sebiji seribu lima ratus saja," tawar Arka.
"Hah! Kalian jualan jagung? Abba kalian menanam jagung?"
"Tidak, Ibu. Tadi ada kakek tua jualan jagung di pasar. Kami beli jagungnya, dua ribu sebiji. Kalau Ibu mau beli, seribu lima ratus saja sebiji."
"Uang Acil tinggal delapan ribu, kembalian parkir.
"Tidak apa, ini aku kasih enam biji. Tapi kami tidak ada plastik."
"Masukkan bakul saja. Beli ya, terima kasih."
"Jual, Acil."
Arka, dan Cantika tersenyum, melihat empat lembar uang dua ribuan di tangan Arka.
"Dijual jagungnya?" tanya seorang ibu yang ingin mengambil mobilnya di parkiran.
"Iya, Ibu." Kepala Arka mengangguk. Senyum tersungging di bibirnya.
"Berapa?"
"Seribu lima ratus satu."
"Ada berapa biji?"
"Dua puluh dikurang enam. Sisa empat belas biji."
"Em, empat belas dikali seribu lima ratus, dua puluh satu ribu ya. Saya beli semua. Masukkan ke bagasai mobil ya." Si Ibu membuka bagasi mobilnya, Arka memasukkan jagung ke dalam bagasi mobil Si Ibu.
"Dua puluh ribu aja, Bu. Discount seribu," ujar Arka.
Si Ibu menyerahkan selembar uang seratus ribu.
"Saya tukar dulu ya, Bu," ucap Arka.
"Tidak usah, buat kalian saja."
Cantika, dan Arka melongo. Si Ibu tersenyum, lalu masuk ke mobilnya. Mobil itu meninggalkan parkiran, meninggalkan Arka, dan Cantika yang masih melongo.
BERSAMBUNG
.jpg)